![]() |
Email: floatproject@gmail.com Jakob: +62 811 145 888 |
||||||
| HOME | NEWS | HISTORY | FLOATERS | PROJECTS | GALLERY | LINKS | FLOATSHOP |
| DARI ZERO KE FLOATPROJECT | |||||||
2002Setelah dua tahun lulus kuliah dan bekerja sebagai fotografer lepas, penyanyi/penulis lagu Hotma “Meng” Roni Simamora diajak bergabung dalam sebuah band bernama Zero oleh Svendpri Sanderson Umpel, teman lamanya saat di sekolah menengah atas dulu. Zero adalah sebuah proyek “sampingan” yang didirikan Svendpri (vokal/gitar) dan dua rekan se-bandnya di Mangobuds. Kedua rekannya itu adalah Priyo Budz (bas) dan Richard Henry Pattiradjawane (gitar). Windra “Bontel” Benyamin, yang saat itu juga bergabung dalam Mangobuds sebagai gitaris, sering ikut nongkrong saat Zero latihan dan nge-gig. Pada akhir Desember 2002, di tempat mereka semua menginap waktu Zero bermain di sebuah acara di Bandung, Bontel meminta Meng memainkan beberapa lagu ciptaannya. Setelah mendengarkan lagu-lagu itu Bontel mengajak Meng untuk merekamnya di studio rumahnya. |
![]() |
||||||
![]() |
2003Pada awal Januari 2003, Bontel dan Meng mulai merekam guide track yang terdiri dari vokal dan gitar. Sebagian besar dari lagu-lagu itu ditulis Meng pada tahun 90an (“Pulang”, “Sementara”, “Perlahan”, dan “Biasa” yang merupakan versi awal dari “3 Hari Untuk Selamanya”). Sedangkan sebagian lainnya adalah karya-karya terbarunya waktu itu (“No-Dream Land” dan “Stupido Ritmo”). Dengan materi yang ada ini Bontel mengajak Meng untuk bersama-sama menjadikan proyek ini sebagai proyek album solo Meng dimana Bontel berperan sebagai produser. Tidak lama kemudian, keduanya pun akhirnya hengkang dari Zero dan Mangobuds. |
||||||
2004Bontel memilih mengerjakan “Pulang” sebagai lagu pertama. Ia mengerjakannya selama hampir setahun. Hal ini disebabkan oleh rusaknya data digital yang menyimpan komposisi & aransemen instrumen yang telah ia buat untuk lagu itu. Kesibukannya dalam pekerjaan di sebuah rumah produksi sebagai sound designer dan jingle maker pun ikut menjadi penyebabnya. Untuk menyelesaikan aransemen "Pulang", Bontel merasa perlu mengganti track bas “plastik” (midi) yang telah ia buat. Akhirnya ia membujuk teman se-bandnya di d’Opera dulu, yaitu Raymond “Remon” Agus Saputra, untuk bergabung sebagai pemain bas. Dengan bergabungnya Remon, Bontel lalu mengajak Meng untuk kembali melanjutkan proyek album solonya ini sebagai proyek sebuah band. Pada tanggal 22 Agustus 2004 sesi rekaman “Pulang” dan “Stupido Ritmo” selesai. Walaupun saat itu industri musik indie telah berkembang pesat, satu-satunya hal yang mereka lakukan pada karya rekaman itu agar didengar banyak orang adalah dengan membagikan copy rekaman itu ke teman-teman. Karena saat itu baru “Stupido Ritmo” saja yang sudah selesai mastering, keping-keping CD kopian itu hanya berisi satu lagu. Mereka pun belum memikirkan nama yang mewakili mereka bertiga sebagai sebuah band, hingga seorang teman (Febby Lubis) menanyakannya. Untuk itu, pada tanggal 30 Agustus 2004, Meng menawarkan Bontel dan Remon tiga buah nama termasuk “Float” yang akhirnya terpilih karena maknanya yang paling mewakili ketiganya dalam hal pendekatan bermusik dan semangat kebebasan berekspresi. Diam-diam Febby mengirim CD itu ke Anton “Not” Wahyudi yang saat itu bekerja sebagai music director di Radio Prambors Jakarta. Tidak lama kemudian, “Stupido Ritmo” pun mulai mengudara dan masuk ke daftar tangga lagu musik indie “Prambors Nubuzz”. Lagu itu pun akhirnya mencapai puncaknya pada tanggal 8 Desember 2004 dan bertengger disana selama tiga minggu. Dengan tambahan lagu “No-Dream Land”, Float memutuskan untuk memproduksi sendiri album perdananya dengan judul yang sama. Album itu hanya memuat tiga buah lagu, bersama dua lagu lainnya “Stupido Ritmo” dan “Pulang”. |
![]() |
||||||
![]() |
2005Dengan dukungan teman dan keluarga, akhirnya mastering ketiga lagu dalam album itu selesai dikerjakan. Kemudian, rekamannya diperbanyak dalam bentuk fisik berupa kepingan CD, lengkap dengan kemasan. Proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Jaya ROXX yang merupakan kakak kandung Bontel sendiri. Sedangkan desain grafis pada sampul albumnya dikerjakan seorang teman, Fero Utama. Fotografi dikerjakan sendiri oleh Meng dengan bantuan teman kuliahnya, Klemens Kananlua. Tidak hanya itu, seorang teman, yaitu Joe Gievano, yang juga bekerja sebagai pembuat film pun menawarkan bantuannya untuk membuatkan video klip “Pulang”, menampilkan Bonita Shinta Dewi. Pada awal Januari 2005, album perdana Float “No-Dream Land” yang jumlahnya hanya 1000 keping mulai didistribusikan melalui distro-distro dan pesanan. Sebagian malah tetap mereka bagikan ke teman-teman, beberapa stasiun radio di kota-kota besar, stasiun TV swasta, dan “target market” lainnya. Pada bulan April 2005, Radio Prambors Jakarta menganugerahkan Float sebuah reward sebagai band yang jenis musiknya dianggap “out of the box” dalam ajang “Prambors Blast The Rewards”. Tak disangka-sangka, pada bulan November 2005, produser film Mira Lesmana berada di antara penonton di konser mini mereka di Tornado Coffee Kemang Jakarta. Pada saat sesi rehat ia mendatangi mereka untuk menyampaikan kesukaannya pada musik Float. Ia pun menawarkan sebuah proyek kolaborasi dimana Float, dengan musik dalam album barunya nanti, akan mengisi soundtrack untuk film terbarunya yang berjudul “3 Hari Untuk Selamanya” yang disutradarai Riri Riza. Album baru itu akan dirilis oleh label perusahaan rekamannya yang baru, yaitu Miles Music. Tawaran itu pun langsung disambut antusias oleh Meng, Bontel, dan Remon. |
||||||
2006Sayangnya, bersamaan dengan kealpaan seorang manajer resmi yang berperan penting dalam menangani pengembangan visi, soliditas, citra, dan potensi bisnis yang diperlukan untuk kelangsungan eksistensi Float, berbagai masalah yang melibatkan ketiganya makin banyak bermunculan dan tidak terhindarkan. Apalagi setelah Bontel dan Remon direkrut untuk bekerja di sebuah rumah produksi yang membuat ketiganya semakin jarang bertemu. Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 2006, Meng memutuskan untuk menjalankan proyeknya sebagai musisi solo. Tapi, perpisahan itu tidak berlangsung lama. Pada pertemuan Meng dan Abang Edwin SA yang juga merupakan teman istrinya, Meng menceritakan kondisi Float terakhir. Abang mengusulkan agar mereka bersama-sama menemui Mira Lesmana untuk menceritakan perkembangan ini, sehubungan dengan tawaran kolaborasi yang sudah terlanjur disanggupi oleh Float. Akhirnya Meng setuju untuk bergabung kembali dengan Bontel dan Remon dalam Float yang baru sebagai sebuah proyek, bukan sebagai band. Abang pun berperan sebagai manajer proyek itu. Pada bulan April 2006, mereka mulai mengerjakan album baru mereka yang kemudian diberi judul “Music For 3 Hari Untuk Selamanya” (Miles Music, 2007). Pada tanggal 21 Desember 2006, proses mastering album itu selesai. Tidak lama kemudian, Jakobus Mulia bergabung dengan Float untuk membantu menjalankan peran manajerial. |
![]() |
||||||
![]() |
2007Pada tanggal 18 Juli 2007, Timur Segara (drummer band Clorophyl), bergabung sebagai pemain pendukung dalam gig-gig Float. Dengan album soundtrack mereka, Float memperoleh penghargaan bergengsi seperti Abhinaya Trophy untuk Soundtrack Terbaik di ajang Jakarta Film Festival dan Best Theme Song di ajang penganugerahan MTV Indonesian Movie Awards, dimana keduanya didapat di tahun yang sama. Selain itu, sebuah pencapaian lain juga diraih Float. Lagu mereka yang berjudul “Surrender” digunakan sebagai lagu tema dalam promosi media sebuah film seri produksi Satellite Television for the Asian Region (STAR), sebuah televisi satelit berbayar yang berbasis di Hong Kong. Film seri itu berjudul “Heroes” (Season 2). |
||||||
2008Pada awal 2008 masing-masing anggota Float memutuskan untuk mengerjakan proyeknya sendiri. Meng pun melanjutkan Float dengan mengerjakan sendiri lagu-lagu barunya. Salah satunya, yang berjudul “Waltz Musim Pelangi”, dirilis dalam album kompilasi “Songs Inspired by Laskar Pelangi”. |
|||||||
![]() |
2011Setelah vakum selama 2 tahun, akhirnya Meng menemukan tim barunya untuk kembali menghidupkan Float. Semua berawal pada saat Meng bertemu lagi dengan Timur Segara (drum, Clorophyl) awal Desember 2010 lalu. Timur menyarankan agar Float diaktifkan lagi. Sebagai gig perdana, bermain di Java Jazz 2011 dengan mengajak adik ipar Meng, Leo Christian (bas, Ecoutez!), yang juga teman sekolah Timur dulu. Untuk menyempurnakan formasi baru ini, David Q Lintang (gitar, Clorophyl) dan Iyas Pras (keyboard, Ecoutez!) pun bersedia bergabung. Setelah sekain lama bermain bersama, dengan berbagai penyesuaian, chemistry yang menyatukan mereka mulai tampak. Lahirlah aransemen musik yang baru untuk "3 Hari Untuk Selamanya", "Sementara", "Surrender", "Tiap Senja", "Stupido Ritmo", "Pulang", dan sebuah lagu baru yang ditulis Meng, "Indah Hari Itu". Float batal main di Java Jazz 2011 karena batas waktu pendaftaran telah terlewat 2 bulan. Proyek "jangka pendek" itu pun akhirnya berubah haluan. Tidak hanya sekedar kembali ke panggung, dengan komitmen barunya, formasi baru Float ini akan mengeluarkan sebuah album baru. |
||||||
| Copyright © 2012 FLOATPROJECT. Some rights reserved. | |||||||